Menurut Presiden Direktur Syngenta Indonesia Eryanto, kemitraan tersebut sebagai respons terhadap tantangan menurunnya kesehatan tanah di berbagai wilayah Indonesia yang mana studi tahun 2019 oleh Kementerian Pertanian (Balai Penelitian Tanah) menunjukkan bahwa dua pertiga wilayah Indonesia memiliki kandungan karbon tanah yang rendah.
Kondisi ini, lanjut dia dalam keterangannya di Jakarta, Senin, menandakan rendahnya kesuburan, berkurangnya kemampuan tanah menyimpan air dan nutrisi, serta meningkatnya kerentanan terhadap degradasi.
"Jika tidak ditangani, penurunan kualitas tanah dapat menurunkan produktivitas pertanian dan mengancam ketahanan pangan jangka panjang," katanya.
Oleh karena itu pihaknya terus mendorong praktik pertanian yang lebih baik, termasuk pertanian regeneratif untuk mencapai tiga hasil utama yaitu meningkatkan keanekaragaman hayati, memperbaiki kesehatan tanah dan mengurangi emisi.
Inovasi yang dikembangkan melalui kemitraan ini, tambahnya, adalah penggunaan biochar, bahan berbasis karbon yang dapat memperbaiki kualitas tanah secara bertahap dan berkelanjutan.
Biochar dapat diproduksi dari berbagai sumber biomassa, termasuk residu pertanian, kehutanan, dan industri. Namun, agar manfaatnya lebih luas, adopsi di tingkat petani perlu diperluas melalui dukungan ekosistem, pendampingan teknis, dan akses ke produk siap pakai.
Eryanto menyatakan sebagai produsen benih jagung SI memiliki potensi untuk memanfaatkan residu biomassa seperti tongkol jagung, oleh karena itu melalui kemitraan tersebut kedua perusahaan melakukan pengolahan tongkol jagung menjadi biochar siap pakai.
"Inisiatif ini juga mendukung ekonomi sirkular dengan mengubah limbah biomassa menjadi input pertanian bernilai tambah, sehingga memperkuat ketahanan dan produktivitas petani secara berkelanjutan," katanya.
Sebelumnya penandatanganan Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) untuk mendorong adopsi biochar sebagai solusi pertanian regeneratif dilakukan dalam acara Festival Pertanian Regeneratif: Inovasi Biochar di Malang, Jawa Timur pada, Sabtu (6/6).
Sementara itu CEO TerraBaru, Bruno Wauters menambahkan sinergi inovasi tersebut dirancang untuk memperkuat ketahanan pangan nasional, meningkatkan produktivitas lahan melalui pemanfaatan limbah jagung lokal, serta menjaga kelestarian tanah dalam jangka panjang.
Selain menjadi solusi pertanian regeneratif untuk memperbaiki kesehatan tanah dan mengurangi emisi, lanjutnya, inovasi biochar juga mendukung terciptanya pangan yang aman, berkualitas dan berkelanjutan bagi masyarakat.

